perasaan itu tiba-tiba kembali lagi seiring datangnya masalah yang tidak dapat dicegah, kini saya harus bergulat dengan sekuat tenaga, mengerahkan semua kemampuan sampai batas ambang jenuh untuk menghilangkan perasaan tersebut paling tidakjangan sampai perasaan itu menggerogoti asa dan harapan yang telah saya rangkai sejak dulu. biarlah perasaan itu menjadi pernak-pernik yang menghiasi mimpi-mimpi layaknya lukisan-lukisan dan guci yang terbuat dari batu permata menghiasi sudut rumah yang membuat setiap orang terkesima dan merekam apa yang terlihat dalam sukma mereka.karena saya yakin semegah apapun sebuah rumah tapi jika di dalamnya kosong tidak ada apa-apa, rumah tersebut akan terlihat rumah kosong bak semuah rumah yang tidak berpenghuni. begitupun sebuah harapan dan cita, akan terasa lebih indah bila keputus asaan menyergap, karena dengan keputus asaan itulah kita mengetahui seberapa kuat harapan kita. jika kita menyerah kepada keputus asaan itu, artinya harapan yang ada pada diri kita kecil, sebaliknya jika dapat melawan ketidak putus asaan itu, berarti harapan yang ada dalam diri kita besar. jadi jangan takut untuk behrharap pada mimpi kita, dan jangan takut kepada keputus asaan. jadikan harapan seperti tumbuhan yang terus menjulang tinggi meskipun angin dan badai menerjang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar