Sabtu, 26 Maret 2011

cerita diri

dari awal saya tidak ingin untuk masuk ke institut pertanian bogor. tapi tuntutan dan kewajiban yang memaksa saya harus masuk ke ipb, suka tidak suka, mau tidak mau. berawal dari seorang guru yang masuk kelas dengan membawa kabar bahwa kementrian agam membuka beasiswa s1 untuk santri. ada bamyak pilihan universitas ditawarkan, mulai dari universitas yang bersifat umum seperti ITB, IPB, ITS, UGM, UNAIR maupun yang bersifat keagamaan seperti UIN, IAIN, STAIN. dan di masing-masing perguruan tinggi ada beberapa jurusan yang dirawarkan yang memang sekiranya dibutuhkan oleh pesantren maupun masyarakat. mengapa demikian? karena timbal balik yang akan diberikan oleh setian peneima beasiswa tersebut adalah mengabdi ke pesantren asal atau pesantren yang ditunjuk oleh kementrian agama setelah mendapat gelar s1.
pada hari dimana guru saya memberi tahukan hal tersebut, hampir semua teman-teman saya merekomendasikan saya untuk mengikuti tes seleksi beasiswa itu. meskipun sekuat tenaga saya menolak tapi guru dan teman-teman saya terus mendesak. apa mau dikata, akhirnya saya mengikuti tes seleksi beasiswa tersebut dengan beberapa teman saya yang memang mengajukan diri tidak direkomendasikan seperti saya. 
ujian pun selesai, sayakembali ke pesantren dengan tanpa harapan sedikitpun untuk lolos tes tersebut dan mendapatkan beasiswa. sebaliknya saya mengharapkan saya tidak lulus. suatu ketika di ruang kelas yang cukup asri, saya dipanggil oleh kepala sekolah saya ke kantor, saya ditanya apakah saya mengisi formulir pendaftaran yang ke UNAIR atau IPB, saya menjawab UNAIR. beliau hanya mengangguk tanpa memberikan penjelasan kepada saya mengapa pertanyan tersebut dilontarkan ke saya. setelah beberapa menit kemudian, saya kembali dipanggil ke kantor untuk menerima telpon dari sesorang, satelah saya berbicara, orang yang menelepon memberi tahu bahwa dia adalah pegawai dari IPB dan berkata kalau saya lulus selesksi beasiswa kemenag. namun ada sedikit masalah, formulir milik saya ternyata UNAIR, phak IPB sempat berbaik hati memberi saya kesempatan untuk memilih apakah akan mengambil atau menolak. tapi karena desakan pihak guru maka dengan terpaksa sayapun memilih untuk mengambil. kemudian saya ditawarkan beberapa jurusan yang sangat asins bagi saya. dan karena saya hanya diberi waktu sedikit untuk memilih, saya pun memilih jurusan asal-asalan. STATISTIKA, itulah jurusan yang saya pilih. meskipun saya sendiri tidak tahu sama sekali apa itu statistika dan apa yang akan dipelajari. masa kuliah pun tiba, saya terus berfikir apa bisa saya mengundurkan diri dari program beasiswa ini. tapi jika saya mengundurkan diri, imbasnya kepada adik kelas saya. jadi mau tidak mau saya harus tahan. dalam usaha saya untuk tetap bertahan di IPB, perasaan utnuk keluar terus menyeruak didalam otak saya. saya sempat berfikir lebih baik saya di DO dari pada saya megundurkan diri. bahkan sampai sekarang pun fikiran itu masih suka melintas di otak saya. semoga Allaha memberikan yang terbaik bagi saya....amiiinnnn...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar